Category Archives: Marketing

Dasar-Dasar Digital Media

Digital marketing adalah term yang biasa digunakan dalam dunia marketing yang menggunakan teknologi digital, namun juga termasuk mobile advertising, display advertising, dan media digital lainnya. Digital marketing umum digunakan pada saat orang-orang sudah mulai menggunakan internet untuk melakukan aktifitas sehari-hari seperti mencari informasi, berbelanja, nonton, dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan waktu, Digital marketing dapat dibagi menjadi dua yaitu Digital Creative & Content dan Digital Media & Performance.

Digital creative & content adalah sebuah kegiatan marketing untuk melakukan engagementterhadap pelanggan dari sebuah merek atau perusahaan. Digital creative & content biasanya meliputi media-media yang memang dimiliki oleh perusahaan tersebut termasuk teknologinya (owned media) dan juga untuk media-media yang dikelola oleh sebuah brand atau perusahaan namun menggunakan platform yang sudah ada (earned media). Contoh dari owned media adalah sebuah website, microsite, dan aplikasi, sedangkan contoh earned media adalah Facebook Fanpage, Twitter brand account, Instagram brand account atau biasanya disebut dengan social media. Digital creative and content ini memerlukan sebuah creative content untuk dapat mengatur media nya, baik yang sifatnya rutin setiap hari maupun yang sifatnya sesaat (tactical). Contohnya sebuah merek / perusahaan memerlukan sebuah content strategy agar akun yang mereka kelola tetap memiliki aktivitas atau memerlukan ide kreatif seperti upload video baik menggunakan microsite atau bisa juga menggunakan platform yang ada seperti facebook, twitter.

Digital media & performance adalah sebuah kegiatan marketing untuk mencapai target audience yang sebesar-besarnya dan efektifitas dari pencapaian target tersebut apakah target memang sesuai dengan objektif, hingga pada akhirnya dapat menghitung output baik berupa  sebatasawareness dari sebuah produk maupun pembelian langsung. Untuk melakukan perhitungan tersebut diperlukan sebuah alat yang dapat melakukan tracking, seperti Google Analytics.

Untuk mencapai target audience tersebut, biasanya merk / perusahaan menggunakan pihak lain yaitu media pada umumnya seperti detik.com, kompas.com, facebook.com, dan lain-lain. Pada prakteknya, perusahaan menggunakan agency dalam melakukan pembelian terhadap media-media tersebut.

Ketika merk/perusahaan menggunakan jasa media tersebut, maka media-media tersebut akan memberikan keluaran yang berupa:

  1. Impresi (Impression) adalah sebuah keluaran dari media, yang didefinisikan sebagai jumlah iklan yang dilihat oleh target audience.
  2. Klik (click) didefinisikan sebagai banyaknya orang yang melakukan click terhadap iklan.
  3. CTR (Click Through Rate) adalah jumlah click dibagi dengan jumlah impresi.
  4. Engagement, biasanya digunakan di media sosial yang sifatnya berbayar. Engagementdapat berupa aktivitas yang terjadi, seperti repost (retweet), favorite, click links, dan lain-lain.
  5. View, digunakan di media yang berbasis video, seperti youtube.
  6. Lead adalah banyaknya orang yang melakukan pengisian terhadap sebuah form website.
  7. Akuisisi adalah jumlah transaksi yang terjadi akibat terpapar oleh iklan tersebut melalui sebuah media.
  8. Download/Install, adalah jumlah transaksi download/install yang terjadi akibat dari iklan sebuah media.

Secara garis besar media-media yang ada dapat dikategorikan sebagai berikut:

om

Untuk menggunakan media-media di atas maka perlu dipahami terlebih dahulu jenis-jenis skema pembelian yang ada:

  1. Period based adalah pembelian yang berdasarkan waktu lamanya merk/perusahaan beriklan. Period based bisa bersifat harian, mingguan atau bulanan.
  2. CPM (Cost Per Mile Impression). Seperti dijelaskan di atas, Impresi adalah, jumlah iklan yang terpapar oleh target audience, jadi jika diartikan CPM adalah biaya yang dikeluarkan oleh merk/perusahaan berdasarkan per seribu jumlah impresi yang didapat.
  3. CPC (Cost Per Click), adalah pembelian yang berdasarkan banyaknya jumlah klik yang didapat dari target audience.
  4. CPL (Cost Per Lead). Jika merk/perusahaan memiliki sebuah form registrasi atau form lainnya, maka mereka dapat menggunakan jasa media dengan melakukan pembelian berdasarkan banyaknya orang yang mengisi form tersebut.
  5. CPA (Cost per Acquisition). Jika perusahaan memiliki sebuah transaksi pembelian dalam sebuah website, beberapa media menawarkan sistem pembayaran yang berdasarkan akuisisi pelanggan.
  6. CPD/CPI (Cost Per Download/Cost Per Install), skema pembelian ini digunakan untuk melakukan sebuah campaign dengan tujuan memperbanyak jumlah download atau install.
  7. CPV (Cost Per View) adalah skema pembelian yang digunakan untuk media iklan video, dimana pembayaran akan dilakukan berdasarkan jumlah video terputar sesuai platformmasing-masing.
  8. CPE (Cost Per Engagement). Dalam media sosial, engagement adalah sebuah keharusan, dan merk/perusahaan dapat menggunakan jasa iklan di media sosial dengan cara berbayar berdasarkan engagement yang terjadi. Engagement disini dapat didefinisikan sebagai sebuah repost (retweet), favourite, reply, dan click link. Pembelian iklan di social media ini adalah berbeda dengan managing media sosial untuk earned media, dimana pada earned media tidak bisa memilih target audience yang lebih besar (earned media hanya berdasarkan jumlah follower/fans yang ada).

Digital media platform dijelaskan sebagai berikut:

  1. Single Site, merupakan media yang selama ini kita kenal, seperti detik.com, kompas.com.Single site menjual produk iklan mereka, karena memang basis mereka yang memilikitraffic yang tinggi dan biasanya merupakan sebuah website berita yang credible. Iklan yang ada pada single site biasanya berupa banner, advertorial,  dan lain-lain.
  2. Ad/Web Network, banyaknya website mendorong para pelaku industri untuk memikirkan bagaimana iklan bisa tetap tayang di beberapa website, tanpa harus melakukan kontak ke masing-masing pemilik website. Untuk itulah ad network tercipta, dimana para pemegang merk/perusahaan dapat membeli iklan melalui platform ini, dan iklan mereka akan tayang di beberapa website yang telah bergabung dengan jaringan iklan tertentu. Iklan yang ada pada single site biasanya berupa banner.
  3. Mobile Network. Trend pengguna handphone dan smartphone yang semakin meningkat, mendorong pelaku industri tidak hanya memikirkan website desktop saja, namun juga mobile. Dengan konsep yang sama dengan ad network maka terciptalah mobile network untuk kebutuhan beriklan di platform mobile. Platform mobile disini bisa saja website mobile ataupun aplikasi. Iklan yang ada pada single site biasanya berupa banner.
  4. Programmatic. Setelah banyaknya para pemegang merk/perusahaan menggunakan ad network, muncul masalah baru, dimana terjadi persaingan antar merk/perusahaan supaya mereka tampil dan dominan dibanding dengan competitiornya. Untuk itu muncul sebuah sistem yang sifatnya adalah bidding, yang dilakukan oleh pihak client dalam hal ini pemegang merk/perusahaan. System bidding tersebut harus di manage setiap hari, dan ini membutuhkan resource. Untuk itu dibuatlah sebuah sistem otomatisasi dengan menggunakan sistem komputer, yang disebut dengan programmatic.
  5. Search Engine Marketing adalah media yang memanfaatkan search engine seperti Google search engine sebagai sarana untuk iklan/promosi dari sebuah produk. Dengan adanya Search Engine Marketing, pemegang merk/perusahaan dapat mengatur eksistensi mereka berdasarkan keyword-keyword yang memang dipakai oleh orang banyak.
  6. Email Direct Marketing adalah pemanfaatan email untuk melakukan iklan.
  7. Social Ads. Trend platform social media yang memang digunakan sehari-hari, menimbulkan sebuah wadah baru dimana pemegang merk/perusahaan dapat memasang iklan mereka pada platform tersebut.
  8. Video Ads. Adanya platform video seperti Youtube, membuka kesempatan yang besar untuk pemegang iklan memanfaatkannya untuk beriklan.

Digital media platform yang diatas, untuk proses pembeliannya terdiri dari dua cara, yaitu:

  1. Melalui Sales person/Account Management, dimana para pemilik merk/perusahaan cukup menghubungi Sales person dan menyerahkan materi iklan, maka iklan dapat langsung tayang sesuai kesepakatan. Secara cost, sistem seperti ini adalah fixed cost.
  2. Akses platform mandiri, dimana para pemegang merk/perusahaan dapat melakukan langsung pembelian dengan cara masuk ke dalam platform tertentu dan melakukan request. Sistem seperti ini biasanya menggunakan sistem tender. Para pengiklan langsung akan mengakses dan akan mengontrol sistem tender. Cost yang akan dikelola sifatnya adalah variabel, mengikuti banyaknya orang yang melakukan tender dalam suatu platform.

Iklan LG G2 yang pintar

Baru saja mendapatkan informasi dari website M&C Saatchi bahwa LG dengan produk G2 mengeluarkan iklan yang cukup pintar (dan sadis) menurut saya.

Mereka membuat materi iklan untuk dikeluarkan di handphone saingan mereka dengen cara mengkustomisasi isi iklan tersebut.

Adapun handphone yang menjadi target sasaran mereka adalah HTC One X, iPhone 5, dan Samsung Galaxy S4. dibawah dapat dilihat screenshots-nya.

Secara teknologi hal ini bisa-bisa saja. Keunggulan dari digital media, khususnya di mobile advertising kita bisa melakukan kustomisasi dengan berbagai level sesuai dengan target audince dan objective dari kita memasang iklan. Banyak sekali variasi yang bisa kita lakukan, kita bsia men-target berdasarkan operator, operting system, jenis handphone, browser, category applikasi dan masih banyak lainnya.

yang menarik saya untuk membahasnya adalah, cara mereka membuat materi creativenya yang cukup berani, yaitu dengan mengusung kelemahan dari masing-masing handphone saingan mereka. Ya memang sah-sah saja melakukan hal ini (mungkin) di luar sana, namun dalam etika beriklan di Indonesia, As Far As I Know, hal seperti ini masih makruh hukumnya. bagiamana menurut anda?

 

 

simPATI dan Agnes Monica

Mulai dari Bulan lalu, Brand telco terbesar di Indonesia, yaitu simPATI melakukan gaya kampanye yang sedikit berbeda. Mereka memulai untuk tidak hanya jualan produk, seperti voice, SMS ataupun data tapi mengumbar sesuatu yang disebut sebagai Lifestyle.

Dengan sosok Agnes Monica, seorang penyanyi yang selalu mendapatkan award dimana saja dan menjadi inspirasi agar lebih maju, dan juga dalam menyanyi dia tidak hanya menyanyi artinya dia melakukan aksi panggung berupa Dance yang sangat bagus, maka simPATI membuat aktivitas yang disebut dengan Dance Like Agnes.

Dance Like Agnes ini merupakan kompetisi Dance dimana hadiahnya nanti bisa tampil sepanggung sama Agnes. Nah untuk mempromosikan ini, tidak hanya di Digital saja, namun juga melalui TV, Radio, ground activity sehingga pada akhirnya dapat 10 ribu video dance. Berikut salah satu cuplikannya:

Tidak usah membahas banyak tentang Dance Like Agnes ini karena memang sudah banyak beredar di Internet :P, maka lanjut lagi, ketika Agnes Monica mengeluarkan single yang berjudul Muda (Le O Le O Le), simPATI membundlenya dengan eksklusif, dimana hanya pelanggan simPATI lah yang bisa mendownload lagu tersebut.

Dari sisi TVCnya, mereka tidak memasukkan offering basic product sama sekali, hanya branding dan juga download lagunya. Dan jika kita liat di Yutube hasilnya TVC ini dilihat lebih dari 1, 5 juta kali. Penasaran kaya apa TVCnya? saya embedd yaa..

Klo diliat gerak geriknya di twitter, simPATI benar2 memanfaatkan die hard fansnya dari si Agnes Monica dan promosi semuanya mengatasnamakan Agnes.

Dah cukup lah.. akibat lama gak penah update.. nulis susah bener rasanya 😀

I Love You Full Bango

Sudah lama saya mendengar tengan adanya Festival Jajan Bango. Kemarin minggu saya bersama teman-teman dari @kopdarjakarta jalan-jalan ke acara yang digelar oleh merk kecap manis ternama di Indonesia, yaitu Kecap Bango. Acara yang mengusung tema Pilihan Ibu Nusantara ini mengusung benar-benar membuat perut saya kenyang. Seluruh makanan terbaik dari Kota Jakarta ada di sini. Mulai dari Mie Aceh sampai dengan Kerak Telor yang susah ditemui sehari-hari, ada di sini.

Acara ini merupakan BTL activity yang sangat-sangat bagus sekali menurut saya. Mereka datang dari kebutuhan pokok manusia, yaitu makanan. Semua orang pasti buutuh makan, apalagi saya yang memiliki 2 rasa yaitu enak dan sangat enak :D. Aktivitas ini benar-benar simbiosis mutualisme antara produsen kecap, penjual dan pembeli.

Bagi Produsen kecap, dengan melakukan aktivitas ini, mereka bisa meningkatkan penjualan, karena semakin banyak orang datang, semakin banyak pula penjual memproduksi makanan, dan makin banyak pula kecap yang gunakan untuk makanan tersebut. Pagi penjual, yah dengan adanya panggung besar, dan promosi yang cukup heavy, ini bisa membantu meningkatkan penjualan dan penghasilan mereka, dan untuk pembeli rasa puas dan menghemat waktu untuk mencari makanan yang lezatpun bisa terpenuhi. Selain value real, ada value lain yang tidak terjual, yaitu emotional branding. Rasa ingin mengulang untuk mencicipi makanan tertentu timbul dalam diri pendatang. Saya saja sampai saat ini pengen mengulang mie aceh yang di benhil. Rasanya memang mak nyusss.

Dibalik itu semua, ada yang kurang rasanya, saya mencari-cari makanan lagenda dari kota lain, ternyata tidak ada, tapi tidak apa-apa semua yang saya makan rasanya memang enak. Semoga saja acara ini akan tetap ada sampai kapanpun juga.

Please Open Your Mind About Digital Advertising

Beberapa company saat ini sudah mulai melirik untuk bermain di digital media. Mulai dari banner, search engine marketing, email marketing, ataupun social media, dan masih banyak lainnya. Namun dari yang saya lihat ada beberapa hal yang harus sangat diperhatikan oleh semua pemain yang ingin bermain di digital advertising, termasuk saya sendiri yaitu masalah pola pikir.

Pola pikir di digital media tidaklah sama dengan traditional media (tv, radio, print ads, etc.). Hal yang paling simple yang sering saya alamin adalah timeline. Mungkin sering kita dengar mitos bahwa digital advertising itu lebih cepat dari media tradisional. Menurut saya tidak, bahkan bisa lebih panjang. Contohnya saja, jika kita membuat sebuah print ads, kita hanya sebatas sampai tools manipulating gambar. Berbeda ketika kita membuat sebuah banner atau bahkan microsite, dimana ada proses tambahan yaitu programming. Karena mitos yang mengatakan digital media ini cepat, maka terkadang banyak user yang melakukan request layaknya memakan buah cabai, yang ketika kita makan langsung berasa pedas.

Selain itu trend microsite, fanpage, ataupun membuat sesuatu yang bisa digunakan pada waktu yang cukup panjang, saat ini sedang hangat-hangatnya, banyak pemain yang ingin membuat brand mereka dengan hal tersebut. Terkadang karena trend inilah mereka jadi terkesan sporadis, mereka hanya hit and run dan tidak memikirkan strategi kedepannya akan seperti apa. Ntah ini  akibat dari kebiasaan di traditional media yang hanya memikirkan placement, tanpa ada komunikasi diantaranya, atau ada hal lainnya? Dalam traditional media, sampai saat ini saya belum menumukan adakah sesuatu yang mirip dengan hal  ini, mungkin ada yang punya infonya?.

Pola pikir yang berdasarkan exemplar sekarang berubah menjadi sebuah nilai yang terukur. ini kadang menjadi sesuatu yang kita takuti karena nilai yang terukur tersebut menjadi sebuah boomerang untuk kita. Kita bisa dianggap sangat sukse dan sangat berhasil akibat placement yang kita lakukan. Jika dalam traditional kita hanya berdasarkan asumsi atau berdasarkan hasil survey yang terkadang hanya dikeluarkan oleh 1 lembaga tanpa ada pesaing. Dengan digital advertising, report bisa kita lihat secara live, karena data-data yang menjadi parameter pengukurang langsung masuk ke server dan langsung dapat ditampilkan.

So mari kita membuka pikiran dengan mengkombinasikan antara traditional media dan online media dan meyakinkan diri kita bahwa 2 hal tersebut benar-benar berbeda.

Bagaimana Menciptakan “Buzz” Dalam Hitungan Hari?

Itulah pertanyaan yang sempat terpikir di otak pada waktu diberi sebuah material dimana harus membuat sebuah digital campaign dengan minimum budget dan juga media untuk berkampanye yang dibangun dari nol. Dari sana saya mencoba melihat beberapa tantangan antara lain:

Optimalkan yang ada

Jika memungkinkan, jangan pernah bingung dengan budget yang ada, manfaatkan yang ada. Anda punya network, anda punya brand equity dan anda punya pelanggan & employee.

Saya melihat salah satu campaign yang beberapa hari kebelakang ini dilakukan oleh Telkomsel dengan @nobarsimpati benar-benar mencoba memanfaatkan itu. Mereka memanfaatkan hadiah yang mereka punya yang cukup menarik. Hadiahnya adalah Tiket Premiere Robin Hood dan juga berkesempatan memenangkan trip ke Singapore atau Bali. Siapa yang tidak tertarik dengan hadiah trip tersebut?.

Materi komunikasi yang dilakukan pun, sampai saat ini (Selasa, 4 Mei 2010) hanya billboard, namun karena ada beberapa account twitter yang terkait dengan company ini, langsung segera merespond untuk membantu mempulikasikan hal ini. Sebut saja @2010newday, @TelkomselJKT, dll mereka membantu untuk memprovokasi follower untuk memfollow @nobarsimpati agar orang-orang aware dengan program baru dari perusahaan tersebut. Tidak hanya itu beberapa employee & agency mereka juga membantu mempublikasi program ini, dan al hasil dalam sehari bisa meraih 200 follower yang sangat antusias dengan campaign tersebut.

Selain itu, papan informasi yang selama ini biasanya dibuat di microsite, mereka (@nobarsimpati) memanfaatkan Facebook simPATI sebagai “microsite” yang menerangkan secara detail program mereka. Dengan begini mereka juga bisa menambah fans mereka scara automatis yang nantinya bisa dipakai sebagai media untuk berinteraksi dengan pelanggan.

Lihat Trend Saat Itu

Perlu pembelajaran oleh pelanggan untuk mengetahui bagaimana cara mengikuti game/campaign yang dibuat. Saya jadi ingat dulu sewaktu @2010newday, butuh waktu setidaknya 1 minggu untuk membuat orang-orang aware akan adanya program tersebut. Bagaimana jika campaign yang harus kita lakukan kurang dari 1 minggu?

Kembali ke @nobarsimpati, yang dilakukan adalah melihat trend yang terjadi saat itu. Saat ini cukup banyak campaign-campaign dari sebuah produk yang mengusung konsep trivia kuis. Account twitter yang ditunjuk mengadakan games tersebut akan memberikan pertanyaan dan dijawab oleh followers dengan mention. Selain trivia, account ini juga ikut menambah banjir # (hastag) yang sudah banyak dilakukan oleh merk-merk lain. Ada satu kesalahan di hari pertama yang cukup diangkat yaitu masalah RT meng RT. Sehari sebelum @nobarsimpati menjalankan programmnya @mediaide membuat sebuh tulisan yang sangat menarik tentang RT Abuser!.

Yups memang ada benarnya juga tulisan tersebut, untuk meminimalsir annoying terhadap tulisan RT, seharusnya kita menggunakan fitur retweet bawaan dari twitter. Namun karena banyaknya twitter client yang masih blm mensupport retweet default tersebut, maka tetap banyak orang yang kana menggunakan kata-kata RT tersebut.

Satu hal lagi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir annoying terhadap RT tersebut adalah jangan pernah menyuruh follower untuk meng-RT tweet kita. Dalam hal @nobarsimpati, di hari pertama mereka mewajibkan untuk me-RT pertanyaan kuis trivia sebelum menjawab pertanyaan. Dan banyak orang yang merasa terganggu dengan hal tersebut. Tapi untunglah, untuk kegiatan RT meng RT tersebut bukan menjadi kewajiban lagi saat ini.

Tapi inti dari point ke dua ini adalah kita cermat dalam melihat trend yang terjadi pada saat itu, sehingga kita tidak perlu lagi mempromosikan/mengedukasi dengan waktu yang sangat-sangat-sangat singkat tentang adanya campaign tersebut.

Be Creative

Jangan terkungkung dengan hal-hal itu saja, berusahalah keluar dari dalam kotak. Itulah yang harus sering kita lakukan. Jangan pernah takut untuk bereksperimen dengan sedikit effort.

Dalam hal @nobarsimpati ini selain mengadakan kuis trivia di twitter, mereka (Telkomsel) mencoba mendekati blogger dan memanfaatkan kekuatan blogger sebagai media dalam dunia internet. Mereka membuat sebuah campaign yang masih terkait dengan @nobarsimpati tersebut dimana blogger berkesempatan untuk memenangkan hadiah yang sama dengan kuis trivia, dengan jumlah yang dispesialkan. Game ini cukup unik, karena blogger disuruh mempromokan program trivia mereka, sehingga bisa sedikit mengurangi budget placement.

Jadi apakah sudah memfollow @nobarsimpati?? Ataukah ada trik lain ketika kita dihadapkan dengan problem waktu seperti ini?

Yuk Manfaatin Social Media

Jadi artis? wah enak dong ngetop dan banyak fans. Itulah salah satu hal yang bisa menjadi salah satu benefit sebagai artis atau orang terkenal. Benefit yang dimaksud disini adalah, Artis sebagai public figure yang dibayar untuk menghibur juga bisa memanfaatkan ketenarannya tersebut untuk menjadi sebuah media.

Mungkin kita sering melihat dari tayangan gosip-gosip dan disana sering adanya insertion dari sebuah produk komersil. Yang diharapkan dari insertion ini adalah orang-orang yang menonton mendapatkan sebuah informasi,  dan juga orang-orang tersebut menjadi terpengaruh untuk menggunakan produk tersebut karena dorongan sebagai fans dari public figure tersebut.

Di era social media sekarang ini, benefit ini bisa menjadi lebih optimal lagi. Jika sebelum adanya new media ini, artis-artis tersebut harus bergantung pada media televisi, kapan mereka bisa ditayangkan kapan gak, kini mereka bisa menentukan sendiri kapan bisa ditayangkan atau tidak.

Selain itu juga jika sebelum adanya media baru ini uang yang mereka dapatkan harus dibagi dengan media placementnya. Namun di new media ini, maka uang yang diterima adalah 100%  haknya mereka. Dari sisi media buyer, hal ini bisa menghemat biaya yang dikeluarkan. Karena jika selama ini ada dua item (artis & media) sekarang hanya si artist saja.

Jadi siapakah yang mau menjadi artis? (ayo ngacung!!!)

2010 New Day, New Hope For Indonesian Music

Hari Sabtu kemarin tanggal 30 Januari 2009, kantor (Telkomsel, red), mengadakan sebuah acara musik dalam rangka mensosialisasikan sebuah produk yang bernama Langit Musik. Mungkin disini kita tidak akan ngebahas masalah Langit Musik-nya karena sudah termaktub dalam postingan sebelumnya. 😛

Konser yang mengangkat tema tentang stop anti pembajakan ini, cukup menggembirakan bagi saya, dimana peserta yang datang kurang lebih 5,000. Ah kalau diliat dari sisi jumlah peserta memang biasa saja. Tapi yang membuat saya cukup gembira adalah, untuk mencapai jumlah peserta tersebut, yang dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi ini salah satunya adalah dengan menggunakan social media, tanpa membuat poster ataupun SMS broadcast.

Yang dilakukan adalah dengan membuat Fans Page dan Account Twitter. Untuk mengikuti konser ini, para peserta diwajibkan untuk mendaftarkan diri di Facebook Fans Page-nya lalu kemudian akan di konfirmasikan oleh panitia (dalam hal ini EO: DBB Vertigo). Apa yang dilakukan untuk mempromosikan fans page ini? salah satunya dengan cara membuat fans page ini lebih aktif dengan memberikan informasi yang sangat berharga dan sedikit provokatif untuk orang-orang supaya memberikan comment di dalam page tersebut. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa ketika orang-orang akan comment di page tersebut, maka notifikasi comment akan tampil pada network mereka sehingga, orang-orang yang tergabung dalam network akan cukup ter provokasi dengan membaca notifikasi tersebut.

Selain itu juga, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memblast account twitter. Hal utama yang dilakukan adalah menghubungkan antara facebook dan twitter, sehingga ketika kita meng-update sesuatu dari facebook, maka otomatis twitter tersebut akan terupdate juga. Selain mengandalkan hubungan antar facebook dan twitter, maka komunikasi dengan para follower juga dilakukan, seperti dengan cara melakukan reply atau me-RT dari hasil tweet seseorang.

Ada hal lain lagi dalam twitter ini, ternyata band-band yang manggung disana benar-benar aktif di social media sepert the bannery, endahnresa, efekrumahkaca, dan lain-lain (maaf tidak bisa menyebutkan satu-satu, ntar kepanjangan :P). Karena keaktifan mereka, maka terkadang mereka secara tidak langsung membantu untuk mempromosikan website ini dengan cara Me-RT dari facebook lainnya, atau juga mereka langsung mempromosikan acara tersebut sehingga para groopies dari mereka langsung dapat mengetahui tentang acara tersebut.

Dari aktifitas di atas, maka saya semakin yakin bahwa salah satu kunci di social media adalah conversation. Dari beberapa social media yang dibuat dan saya amati, ketika conversation sedikit maka viralpun akan susah terbentuk.

Hi Bloggers, Jual Statistik Blogmu, Dapatkan Uang!

Beberapa waktu yg lalu, saya sempat dibingungkan dengan daftar blogger yang mungkin bisa diajak bekerja sama dengan kantor tempat saya bekerja. Dalam list tersebut hanya terdapat alamat blog saja.
Diantara daftar blog-blog tersebut ada beberapa yang saya kenal dengan ownernya tetapi ada juga yang tidak. Saya hanya meng-quota 10 blog. Datanglah kebingungan dalam diri saya, haruskah saya memilih blog-blog yang saya kenal saja atau blog yg belum saya kenal yang mungkin juga sangat berpotensi.
Karena saya mencoba untuk objective maka saya kembalikan daftar tersebut untuk meminta sedikit data statistik seperti total pengunjung, average comments, dan lainnya. Dari data tersebut saya coba ranking sesuai kriteria yang saya buat.
Tapi setelah beberapa minggu kemudian daftar tersebut kembali dan jumlahnya hanya separuh saja. Saya jadi ingat pesan twitter salah satu blogger yg blog-nya termasuk dalam daftar tersebut yang menyebutkan bahwa beliau sedikit bingung mencari data-data tersebut.
Saya sempat bingung, kok blogger terkenal gak punya statistik? Setelah saya fikir-fikir dan juga berdiskusi dengan beberapa blogger, sangatlah logis kalo banyak blogger yang tidak punya data statistik, mengingat nge-blog berangkat dari kesenangan dan orang cenderung tidak perduli dengan data-data, yang penting happy.
Namun belakangan ini blog sudah mulai dilirik sebagai new media, sungguh sangat disayangkan kalau blogger tidak memiliki data-data pendukung untuk blognya sehingga bisa dijual. Jika ada data-data tersebut maka blogger tidak cuma senang-senang dengan blognya tetapi juga bisa menghasilkan uang.
Mungkin banyak diluar sana tools yang dapat membantu kita mengeluarkan data-data terkait blog kita. Namun pada blog ini saya menggunakan google-analytics. Mungkin temen-temen yang pakai wordpress bisa menggunakan plugins google-analytics ini seperti saya. So bloggers, tunggu apa lagi, jual statistikmu dan dapatkan uang!!!